EKSPRESIONISME, DISTORSI BENTUK DAN WARNA

Oleh muharyadi
Selasa, 08 Desember 2009 10:47:04 Klik: 6452 Cetak: 41 Kirim-kirim Print version download versi msword

 

 Dalam teori, lukisan ekspresionisme berusaha menggambarkan atau melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan kearah suasana bentuk dan warna guna melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam berupa gambaran tragedi, kekerasan serta berbagai dinamika dan peristiwa yang direkam pelukis untuk divisualisasikan kepermukaan kanvas.

Teori lain tentang ekspresionisme juga menyebutkan, bahwa mazhab ini mengutamakan curahan batin sendiri secara bebas dan mengungkap perwatakan atas suatu gejala, lebih jauh sampai kepada pengungkapan renungan batin yang bebas dari kenyataan diluar dirinya.

Namun pada hakekatnya semua karya seni termasuk ekspresionisme, karena memang merupakan ekspresi seniman. Karya bersifat subjektif dan ungkapan sebebasnya dari seniman biasanya digolongkan ekspresionisme. Kemudian pelukis tidak melukiskan pandangan mata melainkan perasaan hati, bukan lahiriah tetapi kejiwaan, misalnya melukis panasnya “anglo” atau “tungku api” tidak dengan pewarnaan coklat tua warna asal bahan, melainkan merah membakar yang memancarkan panas diperkuat unsur garis sebagai peranan penting yang tidak boleh diabaikan, mengingat garis dapat melahirkan perwatakan atau ekspresi.

Baik warna maupun bentuk banyak yang diubah sedemikian rupa hingga mendorong pelukisan suasana warna dan bentuk. Bahkan Worringer pernah mengatakan bahwa karya-karya ekspresionisme kebanyakan terdapat suatu tendensi kearah individualistis pribadi-pribadi yang tidak menumbuhkan nilai sosialnya, tetapi justru yang hadir kesadaran terhadap isolasi orang lain disekitar kita. Kemudian pendapat Daumier, bahwa hal yang seyogyanya selalu kita lihat dalam menyoal individualistis karena adanya kesadaran seniman untuk mengisolasi diri dan menemukan inspirasi serta motivasinya diri sendiri.

Batasan yang paling spesifik perihal ekspresionisme kemudian terus bergulir bahkan berkembang mengarah kepada ”sesuatu” kecendrungan penggayaan/style, mazhab atau aliran seni lukis abad 20 yang lahir di Jerman yang dalam beberapa saat berkembang disana. Tokoh-tokoh berpengaruh diantaranya adalah Franz Marc (1880-1916) dengan melukis binatang bebas tanpa mempedulikan anatomi. Tiap warna yang dioleskan dan goresan garis mempunyai arti mendukung ungkapan perwatakannya. Tokoh lainnya diantaranya : Vincent Van Gogh, P. Gauguin. Henri Matisse, Andre Derrain

 

EKSPRESIONISME MURNI DAN EROPA UTARA

 

Menyimak perjalanan seni lukis ekspresionisme kecuali peformance karya-karya yang pernah dihasilkan para seniman, ternyata ekpresionis-ekspresionis yang muncul kepermukaan yang dinilai murni berasal dari seniman-seniman Eropa utara lebih dikenal dekat dengan sifat-sifat Worringer. Dari Belanda ada Van Gogh, Jerman dan Rusia tercatat Kandinsky, Jawlensky. Sementara Van Gogh, Paul Gauguin banyak berpengaruh timbulnya ekspresionisme di Jerman. Pelopor dari Swiss Ferdinant Hodler (1853-1918), Belgia, James Ensor (1860-1949) dan Edward Munch (1863-1944).

Yang menarik perhatian menyoal eksperesionisme manakala terdapatnya pertentangan dua kubu kecenderungan penggayaan/style antara klasikisme dan romantisme yang intinya pertentangan kalangan pembina klasikisme-romantisme Paris dengan kaum ekspresionisme.

Dari banyak pendapat yang terus menggelinding, ekspresionisme sering disebut lawan impresionisme yang hanya berusaha melukiskan kesan optik dari sesuatu guna melihat dunia sebagai sebuah tempat yang indah penuh warna, penuh dinamika. Sementara ekspresionisme menjelajah jiwa yang pancarannya keluar merupakan kegelapan yang menyelubung dunia.

Tahun 1905 kelomopok Die Brucke bertepatan lahirnya kecenderungan penggayaan/style Fauvisme di Dresden maka saat itu pula segera terbentuk gerakan ekspresionisme secara resmi pertamakalinya di belahan dunia ini, meski waktu itu istilah ekspresionisme belum dipakai. Enam tahun kemudian muncul nama ekspresionisme sesungguhnya dengan para pelopor pembentukannya antara lain Ernst Ludwing Kirchen (1880-1938),  Max Pechsten (1884-1955), Emil Noide (11867-1956) dan Otto Mueller (1974-1930).

Karya-karya yang menonjol kelompok Die Brucke antara lain ; ”Jalan di Berlin” (1913) dan ”Jalan di Dresden” karya Kirrshner, ”Kolam di hutan” (1910) karya Heckel, ”Lofthus” (1911) Schmidt Rottluff, ”Orang India dan wanita” (1910) Pechstein, ”Tiga gadis dalam hutan” (1920), ”Sepasang Pecinta” (1919) merupakan karya terbaik ekspresionis Mueller sementara karya pelukis Noide adalah ”Penari lilin” (1912) dan ”Pemakaman” (1915).

Tetapi kelompok Die Brucke tentulah tidak berjalan sendiri-sendiri karena masih banyak sejumlah pelukis lain dari Eropa yang turut memperkaya suasana bersenilukis, bahkan ada yang tidak sepaham dengan kelompok Die Brucke seperti kelompok seniman-seniman Blaue Reiter seperti Alexei Von Jawlensky kelahiran Rusia (1884-1941), Lyonel Feininger (1891-1956) dan Paul Klee (1879-1940). Ketiga mereka dan diperkuat pelukis Kandinsky tahun 1934 membentuk kelompok Die Blauue Vier yang merupakan kelahiran kembali kelompok Reiter.

Hal menarik sepanjang perjalanan ekspresionisme terutama saat paling ganas perang dunia pertama, para pelukis ekspresionis saat itu merasa tidak sehati dan tidak cocok dengan non obyektivitas serta nafas segar dari kelompok kaum Blaue Reitter karena tidak sesuai dengan emosionallitas Brucke yang terlalu individual dan kurang sesuai pada situasi masalah umum. Dengan demikian bermunculanlah kaum atau kelompok yang beranggotakan sejumlah pelukis dengan menggambarkan masalah-masalah umum yang tidak terwadahi kelompok pelukis lain saat itu.

Di tanah air berangkat dari perjalanan panjang kaum ekspresionisme dunia bermunculan sejumlah nama-nama yang kuat karya-karyanya dalam peta seni rupa diantaranya terdapat nama Affandi, Mardian, Zaini. Pelukis maestro Affandi diantara sejumlah pelukis ekspresionis yang ada di Indonesia dinilai sangat kuat dalam karya-karyanya yang ekspresif dengan garis-garis liar dan lancar dipermukaan kanvas tanpa kehilangan nilai estetika tinggi, lihat sejumlah karya-karyanya yang kini tersimpan rapi disejumlah museum dan galeri di tanah air serta beberapa diantaranya terdapat di museum Asia dan Eropa. *** 

Muharyadi, pendidik, pengamat masalah seni dan jurnalis tinggal di Padang

 

 
Berita Budaya Lainnya
. EMBRIO SENI RUPA INDONESIA ADA DI SUMATERA BARAT
. LUKISAN DIPANDANG SEBAGAI PROSA ATAU PUISI
. Pergulatan Budaya dan Perjalanan Kreatif
. Dr. Adirozal, M,Si : SEPERTI APA MODEL PENDIDIKAN SENI UKIR PANDAI SIKEK ?
. SATU LAGI GALERI SENI RUPA HADIR DI SUMBAR
. Galeri dan Simbol Peradaban Budaya
. LUKISAN PEMANDANGAN, ATMOSFERIK DAN EKSPRESIF
. Seni Lukis Islam di Tengah-tengah Seni Lukis Moderen
. Kreativitas, Membuka Diri dan Mundurnya Idealisme
. Lingkungan Bermain Hingga Menertawakan Diri Sendiri


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 8

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>   01 02 03 04 05 06
> 07 08 09 10 11 12 13
> 14 15 16 17 18 19 20
> 21 22 23 24 25 26 27
> 28 29 30        



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012